√ Hakikat Tentang Pentingnya Keberadaan Mahar Pernikahan dalam Islam

Hakikat Tentang Pentingnya Keberadaan Mahar Pernikahan dalam Islam

Mahar Pernikahan – Salah satu syarat sah dalam sebuah pernikahan adalah adanya mahar (Al-Shadaq) atau biasa kita kenal dengan sebutan mas kawin.

Secara istilah, mahar adalah harta yang wajib diberikan oleh calon suami kepada calon istrinya sebagai salah satu syarat sah pernikahan, dengan sebab akad nikah.

Dahulu, Rasulullah SAW selalu menanyakan kepada para sahabatnya tentang apa mahar yang hendak diberikan untuk menikahi calon istri mereka. Sebab mahar mengandung makna yang cukup dalam.

Dengan disyariatkannya pemberian mahar ini, memiliki salah satu hikmah bahwasanya wanita harus dimuliakan dan berhak untuk memiliki harta.

Tujuan utama dari kewajiban pemberian mahar ini salah satunya untuk menunjukkan kesungguhan (as-sidq) niat dari calon suami untuk menikahi calon istrinya, dengan menempatkannya pada derajat yang mulia.

Pemberian mahar ini harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas serta diniatkan untuk memuliakan wanita, bukannya untuk ajang pamer.

Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa mahar hanyalah sebuah media, bukan tujuan utama dari pernikahan.

Sehingga perlu diluruskan bahwa menikah bukan untuk mencari mahar yang mahal. Lebih dari itu, ada tujuan besar dari dilaksanakannya sebuah pernikahan.


Tentang Jumlah Mahar Pernikahan di Dalam Islam


√ Hakikat Tentang Pentingnya Keberadaan Mahar Pernikahan dalam Islam
finansialku.com

Mengenai proses pemberian mahar ini, umumnya disebutkan jumlah atau barangnya pada saat shigat ijab dan qabul.

Namun hukumnya sunnah, jadi meskipun tidak disebutkan pun pernikahannya tetap sah selagi memenuhi syarat dan rukun nikahnya.

Untuk jumlah minimal dan maksimal mahar, tidak ada ketentuan khusus. Yang bisa dijadikan mahar adalah apapun yang sah dijadikan alat tukar, oleh karenanya bisa berupa barang maupun jasa.

Rasulullah SAW bahkan pernah menyatakan bahwa sebuah cincin yang terbuat dari besi pun bisa dijadikan mahar.

Hal ini ini menunjukkan bahwa karena mahar bukan tujuan utama dari sebuah pernikahan, maka tidak ada standar besarnya mahar itu sendiri, dan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Oleh sebab itu, hendaknya mahar tidak perlu dijadikan beban yang memberatkan pasangan yang akan menikah.

Bagi seorang calon suami tentu ingin memberikan yang terbaik bagi calon istrinya, salah satunya adalah dalam hal pemberian mahar ini. Untuk mendapatkan kepuasan bagi keduanya, ada baiknya jika bersama-sama mendiskusikan hal ini sebelum menikah.

Sehingga bagi calon suami yang memberikan mahar merasa puas karena dapat memenuhi keinginan calon istrinya. Begitu pula dengan sang calon istri, tentu akan puas karena mendapatkan mahar yang sesuai.

Karena jika tidak didiskusikan, bisa jadi justru mahar yang diberikan akan menjadi mubazir.

Misalnya, ketika si calon suami memberikan mahar berupa seperangkat alat sholat saja, padahal disisi lain si calon istri tersebut sudah memiliki banyak sekali, dan menginginkan yang lain maka.

Oleh karena itu, dengan membuat kesepakatan bersama akan lebih baik. Meskipun kembali lagi, mahar tidak perlu dijadikan hal yang memberatkan.

Jadi baiknya hasil diskusinya juga tidak memberatkan salah satu pihak. Perlu diingat, istri yang baik tidak akan menyulitkan calon suaminya bukan? Ya begitu pula dalam urusan mahar ini.


Syarat Barang untuk Dijadikan Mahar


√ Hakikat Tentang Pentingnya Keberadaan Mahar Pernikahan dalam Islam
m.batutimes.com

Membahas tentang mahar pernikahan, yang perlu untuk diperhatikan adalah mengenai syarat-syaratnya. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dari suatu mahar yaitu:

1. Merupakan harta yang mempunyai nilai harga

Maka menjadi tidak sah ketika barang atau jasa yang digunakan sebagai mahar tidak memiliki nilai harga. Misalnya, anda menggunakan sebutir jagung, tidak ada nilai harganya.

2. Harus memberikan manfaat

Harta yang digunakan sebagai mahar hendaknya yang bisa bermanfaat dan bukan sesuatu yang justru mendatangkan kemudharatan. Misalnya barang-barang yang hukumnya haram atau najis.

3. Milik pribadi

Mahar yang diberikan melalui ghosob atau dengan mengambil hak milik orang lain secara paksa adalah batil. Jadi asal hukum harta tersebut merupakan milik seseorang, tidak boleh berpindah kepemilikan kecuali melalui cara yang sesuai syariat.

4. Tidak berasal dari sesuatu yang tidak diketahui asal-usulnya

Selama ini barang-barang yang identik digunakan sebagai mahar ialah berupa uang, emas, rumah, maupun seperangkat alat sholat atau Al-Qur’an. Padahal masih banyak barang lain yang boleh digunakan sebagai mahar.

Mahar juga bisa berupa jasa, misalnya seperti ilmu atau dengan melantunkan hafalan ayat Al-Qur’an. Bisa juga keimanan, seperti kisah Ummu Sulaim yang meminta mahar tersebut pada Abu Thalhah pada zaman dahulu.

Pada dasarnya berapa pun jumlahnya, tidak menjadi masalah karena tidak ada batasan khusus untuk itu.

√ Hakikat Tentang Pentingnya Keberadaan Mahar Pernikahan dalam Islam
penganten.com

Salah satu mahar yang marak digunakan oleh pasangan calon pengantin adalah uang, dimana dalam pengemasannya biasanya dihias dengan sedemikian rupa.

Tidak hanya itu, uang sering kali dipilih karena mempunyai makna yang unik, seperti mencocokkan jumlahnya seperti tanggal pernikahan.

Pada prakteknya pula, dalam menghias uang ini biasanya dikreasikan dalam berbagai bentuk, untuk uang kertas biasanya dilipat, distapler, ditempel dengan lem. Padahal sebenarnya hal tersebut tidak dianjurkan oleh Bank Indonesia (BI).

Pihak BI menghimbau agar masyarakat selalu merawat dan menjaga kondisi uang tetap dalam keadaan baik.

Dimana hal tersebut tertera dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang. Memang tidak ada larangan untuk menggunakan uang sebagai mahar. Karena uang merupakan salah satu bentuk harta.

Namun yang perlu diperhatikan ialah hendaknya diberikan sesuai dengan kondisi yang semestinya bukan dilipat atau sebagainya, karena ada potensi justru akan merusaknya.

Oleh karenanya, mungkin pilihan menggunakan e-money sebagai mahar bisa pertimbangkan, toh juga sama-sama uang.


Perbedaan Mahar Pernikahan dan Seserahan


√ Hakikat Tentang Pentingnya Keberadaan Mahar Pernikahan dalam Islam
weddingku.com

Mungkin beberapa orang masih ada yang bingung tentang perbedaan mahar dengan seserahan atau hantaran pernikahan.

Keduanya sama-sama menjadi syarat pernikahan yang harus dipenuhi oleh calon pengantin. Namun terdapat perbedaan yang mendasar antara mahar dengan seserahan atau hantaran pernikahan ini.

Secara hukum agama, mahar merupakan sesuatu yang wajib dipenuhi karena menjadi salah satu syarat sahnya suatu pernikahan.

Sedangkan seserahan atau hantaran pernikahan hukumnya tidak wajib secara agama, dan umumnya ada karena mengikuti adat atau tradisi di masyarakat saja.

Seserahan atau hantaran ini umumnya dipandang sebagai simbol kesanggupan atau keseriusan calon suami untuk menikahi calon istrinya.

Dibuktikan dengan adanya hal tersebut yang biasanya berupa barang-barang keperluan wanita dan mengandung filosofi tersendiri pada masing-masing barangnya.


Penutup


√ Hakikat Tentang Pentingnya Keberadaan Mahar Pernikahan dalam Islam
brilio.net

Nah, semoga bahasan tersebut memberikan tambahan pengetahuan bagi anda. Baik tentang hakikat mahar pernikahan itu sendiri maupun perbedaannya dengan seserahan atau hantaran pernikahan.

Ketika anda sebagai seorang calon suami akan menikah, dan mampu untuk memberikan mahar pernikahan yang bernilai besar dan banyak tanpa menimbulkan kesusahan di kemudian hari maka dipersilakan saja.

Namun sebaliknya, ketika tidak mampu akan hal itu jangan terlalu dipaksakan.

Begitu pula bagi anda sebagai calon istri, sebaiknya jangan menuntut banyak hal ketika mengetahui kondisi calon suami sekiranya tidak mampu.

Sekali lagi, mengkomunikasikan segala sesuatunya dengan pasangan adalah hal yang baik. Akar hubungan yang baik selain keyakinan satu sama lain ialah terjalinnya komunikasi dengan baik pula.

Keyword: Mahar Pernikahan

Leave a Comment